Platyhelminthes
Disusun oleh :
Ketua
: Luqman r.
Pengertian :
Platyhelminthes = (dalam bahasa yunani, platy = pipih,
helminthes = cacing)
Jadi platyhelminthes adalah
cacing yang berbentuk pipih.
Platyhelminthes kelompok hewan yang struktur tubuhnya sudah lebih
maju dibandingkan porifera dan Coelenterata. Adapun ciri-ciri platyhelminthes
adalah sebagai berikut :
Ciri-ciri platyhelminthes :
1.
hidup di air
2.
Tubuh simetri bilateral
Yaitu :
tubuh yang tidak memiliki tulang belakang
3.
Memiliki sistem saraf pusat
4.
Belum memiliki anus
5.
Berbentuk pipih seperti daun atau pita
6.
kelompok Triploblastik Aselomata
triplobastik adalah hewan yang dari tiga lapisan sel
yaitu ekstoderm, mesoderm,
dan endoderm.
1. Ekstrodem adalah merupakan lapisan luar yang akan berkembang menjadi kulit
2.
Mesoderm
adalah lapisan tengah akan
berkembang menjadi otot –otot
dan beberapa organ tubuh
3.
Endoderm
adalah lapisan dalam yang
akan berkembang menjadi alat pencernaan makanan.
7.
sebagai
parasit pada organisme lain
8.
termasuk
hewan aselomata
yaitu : tidak memiliki rongga tubuh
9.
sistem pencernaan satu lubang.
Yaitu : Sistem
pencernaan pada Platyhelminthes terdiri dari mulut, faring dan usus. Usus
tersebar ke seluruh tubuh. Karena Platyhelminthes tidak memiliki anus, maka
sistem pencernaan Platyhelminthes disebut juga sistem pencernaan satu lubang.
10. Sistem
syaraf tangga tali
Yaitu : pusat
susunan saraf yang disebut sebagai ganglia otak terdapat di
bagian kepala dan berjumlah sepasang. Dari kedua ganglion otak tersebut keluar
tali saraf sisi yang memanjang di bagian kiri dan kanan tubuh yang dihubungkan
dengan serabut saraf melintang
Jenis Platyhelminthes dikelompokan menjadi tiga kelas, yaitu
1. Turbellaria (cacing rambut getar),
2. Trematoda (cacing isap), dan
3. Cestoda (caing pita).
1.
Turbellaria (cacing rambut getar)
Ciri-ciri :
1.
Non-parasit (kelas yang hidup bebas)
2.
Menggunakan bulu getar sebagai alat
gerak
Contoh :
Planaria(Dugesia)
Ciri-ciri :
1.
Memiliki silia. Silia adalah alat
untuk membantu bergerak
2.
Memilik sel api .
Sel api adalah sel berbentuk gelembung berisi seberkas silia dan
terdapat lubang di bagian tengah gelembung itu. Fungsi dari sel api ini sebagai
sistem ekskresi yang terdiri dari serangkaian kana-kanal yang saling
berhubungan di sepanjang kedua sisi longitudinal tubuhnya.
3.
Terdapat sepasang bintik mata.
Berfungsi untuk membedakan
keadaan gelap dan terang
4. Lebih
menyukai tempat gelap
5.
Bersifat Hermafradit
Yaitu : Organ
reproduksi jantan dan betina berada di dalam satu individu Platyhelminthes
2.
Trematoda (Cacing Isap)
Ciri-ciri :
1.
termasuk kelas yang parasit
2.
memiliki
alat hisap.
3.
umumnya
hidup di dalam hati, usus, paru-paru, ginjal, dan pembuluh darah vertebrata
Contoh :
cacing hati ternak (Fasciola hepatica)
Ciri-ciri :
1.
dapat menginfeksi manusia
Telur Larva Mirasidium masuk ke
dalam tubuh siput Lymnea Sporokista berkembang menjadi Larva (II) : Redia
Larva (III) : Serkaria yang berekor, kemudian keluar dari tubuh
keong Kista yang menempel pada tetumbuhan air (terutama selada air Nasturqium
officinale) kemudian termakan hewan ternak (dapat tertular ke orang,
apabila memakan selada air) masuk ke tubuh dan menjadi Cacing dewasa menyebabkan
Fascioliasis.
2.
Memiliki alat
penghisap pada bagian mulut
Berfungsi menempelkan cacing hati
pada inangnya untuk mendapatkan makanan
3.
Bersifat hetmafrodit
Schistosoma
japonicum
Ciri-ciri
:
1.
hidup dipembuluh darah
2.
Memiliki hospes perantara Siput
3.
CESTODA (Cacing Pita)
Ciri-ciri :
1.
bersifat
parasit
karena menyerap sari makan dari usus halus inangnya.Sari
makanan diserap langsung oleh seluruh permukaan tubuhnya karena cacing ini
tidak memiliki mulut dan pencernaan (usus).
2.
Tubuh tertutup kutikula
3.
hidupnya parasit pada alat pencernaan hewan
4.
kulit yang dilapisi kitin
kitin berguna untuk menghindari tercemar oleh enzim di usus inang
Contoh :
Taenia solium (Cacing pita
manusia)
Ciri-ciri
:
1. Proglotid yang matang menjadi alat reproduksinya
Proglotid adalah Tubuh yang terdiri dari rangkaian
segmen-segmen yang masing-masing itu disebut proglotid
2. Memiliki hospes perantara Babi.
Siklus
hidup :
Proglotid (bersama feces) -> mencemari makanan babi -> babi ->
usus babi (telur menetas jadi hexacan) -> aliran darah -> otot/daging
(sistiserkus) -> manusia -> usus manusia (sistiserkus pecah -> skolex
menempel di dinding usus) -> sampai dewasa di manusia -> keluar bersama
feces
Diphyllobothrium latum
Ciri-ciri
:
1. Parasit pada manusia
2. hospes perantara berupa katak sawah
(Rana cancrivora), ikan
(Rana cancrivora), ikan
Reproduksi :
Platyhelminthes bereproduksi dengan
cara :
1.
seksual dan
2.
aseksual.
Artinya yaitu :
1.
Pada
Reproduksi seksual terjadi fertilisasi di dalam tubuh Platyhelminthes.
Fertilisasi dapat dilakukan oleh sendiri atau dua individu.
-
Pada reproduksi seksual akan menghasilkan
gamet.Fertilisasi ovum oleh sperma terjadi di dalam tubuh
(internal).Fertilisasi dapat dilakukan sendiri ataupun dengan pasangan lain
2.
aseksual
dilakukan dengan cara
membelah diri (fragmentasi).
Setelah membelah, bagian potongan tubuh tersebut mengalami regenerasi dan
tumbuh menjadi individu baru
-
Reproduksi aseksual tidak dilakukan oleh semua
Platyhelminthes.Kelompok Platyhelminthes tertentu dapat melakukan reproduksi
aseksual dengan cara membelah diri (fragmentasi), kemudian regenerasi potongan
tubuh tersebut menjadi individu baru.
Siklus hidup :
Platyhelminthes parasit : cacing dewasa – telur – larva bersilia –
inang perantara – sarkaria – sarkaria berenang ke rumput.
Platyhelminthes hidup bebas : Platyhelminthes yang hidup
bebas memakan hewan-hewan dan tumbuhan kecil atau zat organik lainnya seperti
sisa organisme
Peranan
platyhelminthes :
Sebagian besar
anggota dari filum ini bersifat merugikan.
Peranan positif :
1.
Planaria , dapat dimanfaatkan untuk
makanan ikan
Peran negatif :
1.
genus Schistosoma yang dapat
menyebabkan skistosomiasis, penyakit
parasit yang ditularkan melalui siput air tawar pada manusia. Apabila cacing
tersebut berkembang di tubuh manusia, dapat terjadi kerusakan jaringan dan
organ seperti kandung kemih, ureter, hati, limpa, dan ginjal manusia.
Kerusakan tersebut disebabkan perkembanganbiakan cacing Schistosoma di dalam tubuh
hingga menyebabkan reaksi imunitas. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia
2.
Clonorchis sinensis yang menyebabkan infeksi cacing
hati pada manusia dan hewan mamalia lainnya .
Spesies ini dapat menghisap darah manusia
3.
Scutariella didactyla yang menyerang udang jenis Trogocaris dengan cara menghisap
cairan tubuh udang tersebut
Tidak ada komentar:
Posting Komentar